BAB II HAMMER MILL
2.1 Landasan Teori
Dalam pengolahan bahan galian terdapat proses-proses yang
harus di lalui sperti perduksian ukuran baik dari ukuran bongkah(gravel) sampai ada ukuran < mesh 200,
pemisahan setiap ukuran partikel (sizing)
hingga pada pemurnian dan pemasaran. Dalam praktikum ini Hammer mill merupakan
tahap awal pereduksian ukuran (comunisi)
dengan ukuran diameter umpan 3cm – 5cm (krakal). Pada tahap pereduksian terbagi
atas beberapa tahap perduksian yaitu :
v Primary crusher
(peremukan primer)
v Secondary crusher
(peremukan sekunder)
v Fine crusher
v Spesial crusher
Jenis alat
yang digunakan antara lain:
v Primary crusher : Jaw crusher,
hammer mill, gyratory crusher.
v Secondary crusher : Cone crusher,
hammer mill, roll crusher, stamp mill.
v
Spesial used : Hammer mill yang dapat menghasilkan produk berukuran – 60 mesh.
Gambar 2.1 gambar Hammer
Mill
Bagian –
bagian alat dari hammer mill :
1.
Hopper,
sebagai bak penampung material yang akan direduksi.
2.
Revolving disk, sebagai tempat duduknya palu (hammer) yang dihubungkan dengan mesin penggerak
dengan perantara sabuk.
3. Palu
(hammer), sebagai pemecah umpan (feed) yang masuk.
4.
Riffle (penyekat),
sebagai pengatur banyaknya umpan yang masuk.
5.
Screen,
sebagai penyaring untuk memisahkan material yang berbentuk ½ lingkaran dan
terletak pada bagian bawah hammer mill.
6.
Discharge,
sebagai tempat keluarnya poduksi hasil reduksi.
Gambar
2.2 Penampang Hammer Mill
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peremukan Dengan Hummer Mill
1. Ketahanan Batuan,
Ketahanan batuan dipengaruhi kerepasan (friability)
dan kerapuhan (brittleness) dari
kandungan mineralnya. struktur mineral yang sangat halus biasanya lebih tahan
daripada batuan yang berstrukturkasar.
2. Ukuran material umpan,
Apabila ukuran feed terlalu besar
maka material akan sulit dipecahkan oleh palu, sehingga menimbulkan kesukaran
pada palu dan revolving disk, palu
akan berhenti memukul jika hal ini terjadi akan mempercepat hammer mill rusak dan tidak akan
menghasilkan produk yang baik.
3. Kekerasan material, jika material terlalu keras maka akan
menyebabkan sulit bagi hammer mill
untuk beroperasi dengan baik, oleh karena itu pemilihan atau pengenalan
terhadap kekerasan material yang akan diolatr sangatlah penting. umumnya hammer
mill dipergunakan untuk material yang agak lunak.
4. Material yang lembab akan menyebabkan proses pengolahan
yang agak sulit. Apabila material lembab akan dapat menyebabkan penumpukan
material pada celah-celah hammer mill yang kosong dan pada lubang screen.
Keadaan kondisi seperti ini sulit untuk meloloskan material dan membuat hammer
mill cepat rusak, sehingga menurunkan efisiensi produksi. Besarnya kecilnya
kadar air yang dikandung oleh suatu material tentu akan mempengaruhi kinerja
dari alat pengolahan yang digunakan dan hasil penggerusan yang berupa produk
akhir dari rangkaian pengolahan yang dilakukan, dalam hal ini kemampuan kerja Hammer Mill akan dipengaruhi oleh besar kecilnya kadar ak
tersebut.
5.
Jarak
terhadap screen, Jika palu terlalu
dekat dengan screen akan menyebabkan sulitnya palu memukul dan menggerakkan feed atau material. Jarak palu jauh dari
screen akan menyebabkan material terlalu lunak di proses, sebaiknya jarak spasi
palu terhadap screen disesuaikan
dengan bentuk palu, screen dan bahan
galian.
6. Pemasukan material kedalam hammer mill ikut juga mempengaruhi produksi. Apabila feed dimasukkan secara kontiniu, maka
produksi yang diharapkan lebih besar dengan waktu yang sama dari cara
tersebut.
A.
Mekanisme
Peremukan Batuan
Pecahnya batuan pada alat peremuk rahang disebabkan
akibar kuat tekanan material umpan lebih kecil dan pada kuat tekan yang
ditimbulkanoleh alat peremuk, sudut singgung material nip angel, dan arah dan resultan gaya akhir yang mengarah ke bawah sedemikian
sehingga batuan tersebut pecah. Adapun gaya yang bekerja pada peremuk ini
adalah:
1.
Gaya
tekan, Gaya yang dihasilkan oleh gerakan rahang ayun yang bergerak menekan
batuan.
2.
Gaya
gesek, Merupakan gaya yang berkerja pada permukaan antara ratrang diam maupun
rahang ayun dengan batuan.
3.
Gaya gravitasi,
Adalah gaya yang bekerja pada batuan sehingga mempengaruhi arah gerak material
kearah bawah (gravitasi)
4.
Gaya
menahan, Merupakan gaya tahan yang dimiliki batuan atas gaya yang timbul akibat
gerakan rahang ayun terhadap rahang diam.Batuan akan pecah dengan hasil
partikel yang kasar, jika pecahnya batuan tersebul akibat tekanan ataupun
tarikan, sebaliknya akan halus jika pecahnya batuan tersebut disebabkan akibat
gesekan.
2.2
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Hammer Mill adalah
1. Untuk mengetahui proses peremukan atau pereduksian suatu umpan (sampel)
dengan menghasilkan produk yang
berbeda-beda ukuran (mesh).
2. Menentukan dan Mengetahui RR80 dari proses peremukan umpan
yang praktikan lakukan. Dimana
RR80 (ratio
reduction) menyatakan
perbandingan antara 80% umpan (feed) dengan 80% produk.
3. Mengetahui
Aplikasi Hammer Mill dalam dunia pertambangan
2.3
Sistematika Alat
Sistematika
alat Hammer Mill yaitu terjadinya energi kinetik yang menngerakkan palu (hammer)
sehingga hammer bergerak dengan kecepatan tinggi. Pada saat hammer
bergerak maka akan membentur dan mengerus setiap umpan (benda) yang masuk
kedalamnya. Umpan yang telah berbenturan dengan Hammer akan terbentur
kembali ke plat bentur dan sceen. Hasil reduksi yang lebih kecil dari ukuran Screen
akan lolos menuju discharge sementara yang belumlolos akan direduksi
kembali saat Hammer berputar.
2.4
Alat dan Bahan
2.4.1
Alat
Alat-alat yang digunakan dalam proses Hammer Mill yaitu :
1.
Hammer mill, sebagai alat untuk meremukkan batuan.
2. Stopwatch sebagai
alat pencatat waktu.
3.
Timbangan
Elektrik (neraca analitik) sebagai alat
menimbang berat bahan dan plastik
4.
Sieve shekar sebagai ayakan yang digunakan untuk mengelompokkan butiran sesuai dengan
ukuran butirannya.
5.
Kantong
plastik sebagai wadah sample dari tiap ayakan.
6.
Kuas
1 buah sebagai
pembersih alat.
7.
Dulang
2 Buah untuk
tempat sample setelah di reduksi.
8. Scrap 2 buah
untuk mencampur sample.
9. Penggaris, untuk mengukur ukuran dimensi umpan dan
membagi produk dalam bagian masing – masing.
10. Palu (batangan besi), untuk mereduksi ukuran umpan
sebelum melakukan proses reduksi dengan Hammer
Mill
11. Plat kaca, untuk merataka produk untuk dibagi dalam
beberapa bagian yang telah ditentukan.
12. Spidol, untuk membuat tanda pada tiap plastik berisi
sampel sebagai pengenal.
13. Timbangan, untuk menimbang umpan, sebelum proses reduksi
pada Hammer Mill
Neraca analitik sekop kuas
dulang Hammer Mill scrap
Screen Plat
Kaca Timbangan
Spidol betangan
besi Penggaris
2.4.2 Bahan
Bahan yang praktikan gunakan adalah batu
gamping(CaCO3)
Bahan sebelum di proses(reduksi) 18 kg
Bahan setelah di proses(reduksi)
2.5 Prosedur kerja
pada Hammer Mill
1.
Mereduksi
sampel dengan ukuran P(panjang), L(lebar), T(tebal/tinggi) maksimal 5 cm.
2.
Mencatat
hasil pengukuran dengan tabel P, L dan T untuk umpan 1 kg, 2 kg dan 3 kg
masing-masing 3 bagian.
3.
Mereduksi
sampel dengan Hammer Mill dengan
durasi waktu 120 sekon untuk setiap 1 bagian pada sampel.
4.
Switch off Hammer Mill setelah pereduksian setiap
umpan selesai, guna untuk memisahkan produk dari masing-masing umpan.
5.
Hasil
pereduksian dikumpulkandengan menggunakan metode sampling (cone quartering) (kecuali untuk produk 3 kg hasil pembagian 4 bagian
hanya 1 yang digunakan sebagai perwakilan dan dilanjutkan dengan membagi produk
dalam 4 bagian untuk digunakan).
6.
Menimbang
produk setiap bagian sebelum diayak.
7.
Mengayak
produk dengan durasi :
-
Bagian
I 60 sekon
-
Bagian
II 120 sekon
-
Bagian
III 180 sekon
-
Bagian
IV 600 sekon.
8.
Menimbang
produk untuk tiap mesh pada ayakan dan mencatat hasil
penimbangan tersebut.
9.
Setelah
menimbang produk, digabung kembali dalam 1 tempat(plastik).
10. Malakukan pengolahan data dan mencari RR80 dengan
membandingkan 80% umpan dengan 80% produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar