daftar Pengunjung

Senin, 08 Juli 2013

Laporan Praktikum Pengolahan Bahan Galian JUrusan TEknik Pertambangnan Fakultas Teknologi Mineral ITM

BAB II HAMMER MILL




2.1 Landasan Teori
Dalam pengolahan bahan galian terdapat proses-proses yang harus di lalui sperti perduksian ukuran baik dari ukuran bongkah(gravel) sampai ada ukuran < mesh 200, pemisahan setiap ukuran partikel (sizing) hingga pada pemurnian dan pemasaran. Dalam praktikum ini Hammer mill merupakan tahap awal pereduksian ukuran (comunisi) dengan ukuran diameter umpan 3cm – 5cm (krakal). Pada tahap pereduksian terbagi atas beberapa tahap perduksian yaitu :
v   Primary crusher (peremukan primer)
v   Secondary crusher (peremukan sekunder)
v   Fine crusher
v   Spesial crusher
Jenis alat yang digunakan antara lain:
v   Primary crusher : Jaw crusher, hammer mill, gyratory crusher.
v   Secondary crusher : Cone crusher, hammer mill, roll crusher, stamp mill.
v   Spesial used : Hammer mill yang dapat menghasilkan produk berukuran – 60 mesh.

  

Gambar 2.1 gambar Hammer Mill
Bagian – bagian alat dari hammer mill :
1.      Hopper, sebagai bak penampung material yang akan direduksi.
2.      Revolving disk, sebagai tempat duduknya palu (hammer) yang dihubungkan dengan mesin penggerak dengan perantara sabuk.
3.      Palu (hammer), sebagai pemecah umpan (feed) yang masuk.
4.      Riffle (penyekat), sebagai pengatur banyaknya umpan yang masuk.
5.      Screen, sebagai penyaring untuk memisahkan material yang berbentuk ½ lingkaran dan terletak pada bagian bawah hammer mill.
6.      Discharge, sebagai tempat keluarnya poduksi hasil reduksi.
Gambar 2.2 Penampang Hammer Mill
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peremukan Dengan Hummer Mill
1.      Ketahanan Batuan, Ketahanan batuan dipengaruhi kerepasan (friability) dan kerapuhan (brittleness) dari kandungan mineralnya. struktur mineral yang sangat halus biasanya lebih tahan daripada batuan yang berstrukturkasar.
2.      Ukuran material umpan, Apabila ukuran feed terlalu besar maka material akan sulit dipecahkan oleh palu, sehingga menimbulkan kesukaran pada palu dan revolving disk, palu akan berhenti memukul jika hal ini terjadi akan mempercepat hammer mill rusak dan tidak akan menghasilkan produk yang baik.
3.      Kekerasan material, jika material terlalu keras maka akan menyebabkan sulit bagi hammer mill untuk beroperasi dengan baik, oleh karena itu pemilihan atau pengenalan terhadap kekerasan material yang akan diolatr sangatlah penting. umumnya hammer mill dipergunakan untuk material yang agak lunak.
4.      Material yang lembab akan menyebabkan proses pengolahan yang agak sulit. Apabila material lembab akan dapat menyebabkan penumpukan material pada celah-celah hammer mill yang kosong dan pada lubang screen. Keadaan kondisi seperti ini sulit untuk meloloskan material dan membuat hammer mill cepat rusak, sehingga menurunkan efisiensi produksi. Besarnya kecilnya kadar air yang dikandung oleh suatu material tentu akan mempengaruhi kinerja dari alat pengolahan yang digunakan dan hasil penggerusan yang berupa produk akhir dari rangkaian pengolahan yang dilakukan, dalam hal ini kemampuan kerja  Hammer Mill  akan dipengaruhi oleh besar kecilnya kadar ak tersebut.
5.      Jarak terhadap screen, Jika palu terlalu dekat dengan screen akan menyebabkan sulitnya palu memukul dan menggerakkan feed atau material. Jarak palu jauh dari screen akan menyebabkan material terlalu lunak di proses, sebaiknya jarak spasi palu terhadap screen disesuaikan dengan bentuk palu, screen dan bahan galian.
6.      Pemasukan material kedalam hammer mill ikut juga mempengaruhi produksi. Apabila feed dimasukkan secara kontiniu, maka produksi yang diharapkan lebih besar dengan waktu yang sama dari cara tersebut.

A.    Mekanisme Peremukan Batuan

Pecahnya batuan pada alat peremuk rahang disebabkan akibar kuat tekanan material umpan lebih kecil dan pada kuat tekan yang ditimbulkanoleh alat peremuk, sudut singgung material nip angel, dan arah dan resultan gaya akhir yang mengarah ke bawah sedemikian sehingga batuan tersebut pecah. Adapun gaya yang bekerja pada peremuk ini adalah:
1.      Gaya tekan, Gaya yang dihasilkan oleh gerakan rahang ayun yang bergerak menekan batuan.
2.      Gaya gesek, Merupakan gaya yang berkerja pada permukaan antara ratrang diam maupun rahang ayun dengan batuan.
3.      Gaya gravitasi, Adalah gaya yang bekerja pada batuan sehingga mempengaruhi arah gerak material kearah bawah (gravitasi)
4.      Gaya menahan, Merupakan gaya tahan yang dimiliki batuan atas gaya yang timbul akibat gerakan rahang ayun terhadap rahang diam.Batuan akan pecah dengan hasil partikel yang kasar, jika pecahnya batuan tersebul akibat tekanan ataupun tarikan, sebaliknya akan halus jika pecahnya batuan tersebut disebabkan akibat gesekan.

2.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Hammer Mill adalah
1. Untuk mengetahui proses peremukan atau             pereduksian suatu umpan (sampel) dengan    menghasilkan produk yang berbeda-beda            ukuran (mesh).
2. Menentukan dan Mengetahui RR80 dari proses      peremukan       umpan yang praktikan             lakukan. Dimana RR80           (ratio reduction)          menyatakan perbandingan      antara 80%      umpan (feed) dengan 80%        produk.
3.  Mengetahui Aplikasi Hammer Mill dalam dunia   pertambangan

2.3 Sistematika Alat
Sistematika alat Hammer Mill yaitu terjadinya energi kinetik yang menngerakkan palu (hammer) sehingga hammer bergerak dengan kecepatan tinggi. Pada saat hammer bergerak maka akan membentur dan mengerus setiap umpan (benda) yang masuk kedalamnya. Umpan yang telah berbenturan dengan Hammer akan terbentur kembali ke plat bentur dan sceen. Hasil reduksi yang lebih kecil dari ukuran Screen akan lolos menuju discharge sementara yang belumlolos akan direduksi kembali saat Hammer berputar.









2.4 Alat dan Bahan
2.4.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam proses Hammer Mill yaitu :
1.      Hammer mill, sebagai alat untuk meremukkan batuan.
2.      Stopwatch sebagai alat pencatat waktu.
3.      Timbangan Elektrik (neraca analitik) sebagai alat menimbang berat bahan dan plastik
4.      Sieve shekar sebagai ayakan yang digunakan untuk mengelompokkan butiran sesuai dengan ukuran butirannya.
5.      Kantong plastik sebagai wadah sample dari tiap ayakan.
6.      Kuas 1 buah sebagai pembersih alat.
7.      Dulang 2 Buah untuk tempat sample setelah di reduksi.
8.      Scrap 2 buah untuk mencampur sample.
9.      Penggaris, untuk mengukur ukuran dimensi umpan dan membagi produk dalam bagian masing – masing.
10.  Palu (batangan besi), untuk mereduksi ukuran umpan sebelum melakukan proses reduksi dengan Hammer Mill
11.  Plat kaca, untuk merataka produk untuk dibagi dalam beberapa bagian yang telah ditentukan.
12.  Spidol, untuk membuat tanda pada tiap plastik berisi sampel sebagai pengenal.
13.  Timbangan, untuk menimbang umpan, sebelum proses reduksi pada Hammer Mill










 
Neraca analitik                                   sekop                                           kuas
 
dulang                                        Hammer Mill                                       scrap
Screen                                           Plat Kaca                            Timbangan
 
    Spidol                                       betangan besi                        Penggaris
2.4.2 Bahan
Bahan yang praktikan gunakan adalah batu gamping(CaCO3)
Bahan  sebelum di proses(reduksi) 18 kg
   

Bahan setelah di proses(reduksi)
   


                            

   

2.5 Prosedur kerja pada Hammer Mill
1.      Mereduksi sampel dengan ukuran P(panjang), L(lebar), T(tebal/tinggi) maksimal 5 cm.
2.      Mencatat hasil pengukuran dengan tabel P, L dan T untuk umpan 1 kg, 2 kg dan 3 kg masing-masing 3 bagian.
3.      Mereduksi sampel dengan Hammer Mill dengan durasi waktu 120 sekon untuk setiap 1 bagian pada sampel.
4.      Switch off Hammer Mill setelah pereduksian setiap umpan selesai, guna untuk memisahkan produk dari masing-masing umpan.
5.      Hasil pereduksian dikumpulkandengan menggunakan metode sampling (cone quartering) (kecuali untuk produk 3 kg hasil pembagian 4 bagian hanya 1 yang digunakan sebagai perwakilan dan dilanjutkan dengan membagi produk dalam 4 bagian untuk digunakan).
6.      Menimbang produk setiap bagian sebelum diayak.
7.      Mengayak produk dengan durasi :
-          Bagian I 60 sekon
-          Bagian II 120 sekon
-          Bagian III 180 sekon
-          Bagian IV 600 sekon.
8.      Menimbang produk untuk tiap mesh pada ayakan dan mencatat hasil penimbangan tersebut.
9.      Setelah menimbang produk, digabung kembali dalam 1 tempat(plastik).
10.  Malakukan pengolahan data dan mencari RR80 dengan membandingkan 80% umpan dengan 80% produk.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar