BAB III ROD
MILL
3.1 Landasan Teori
Penggerusan
dengan rod mill diterapkan dengan cara penggerusan basah dan kering, rod mill
digunakan pada prymary grinding sebelum dilanjutkan dengan ball mill. Disamping
itu rod mill digunakan untuk preparasi bijih untuk proses gravity konsentrasi
dengan produk mempunyai ukuran 4-100 mesh, dapat juga digunakan untuk umpan
pembuatan klinker semen.
(Rod mills) mampu mereduksi (feed) dengan ukuran 50 mm menjadi produk dengan ukuran 300 μm. Rasio
reduksi biasanya antara 15: 1 s.d. 20:1. Ciri khusus dari (rod mill) adalah panjang (cylindrical shell)-nya antara 1,5 dan 2,5 kali diameternya.

Gambar 3.1
Tampilan Rod Mill
(Mill) dengan panjang 6,4 m, diameternya tidak boleh lebih dari
4,57 m. Rod mills) dengan diameter lebih dari 4,57 m dengan panjang 6,4 m dapat
digunakan dengan motor 1640 kW.
Daya yang
dibutuhkan untuk kapasitas tertentu dapat diperkirakan dengan persamaan Bond:
Persamaan Bound
·
Jenis – jenis Rod Mill
-
Centre peripheral discharge mills
|
Gambar 3.2 centre peripheral
discharge mill
|
Pada centre peripheral discharge mills, feed dimasukkan dari kedua
ujungnya ke dalam trunnions dan hasilnya dikeluarkan melalui port
sirkumferen pada bagian tengah shell. Mill ini dapat digunakan untuk penghalusan
basah atau kering dan banyak dipakai dalam menyiapkan pasir-pasir khusus dalam
jumlah besar.
-
End peripheral
discharge mills
Pada end peripheral discharge mills, feed dimasukkan dari salah satu ujungya ke trunnion dan produk dikeluarkan dari ujung
lainnya. Mill ini digunakan umumnya untuk
penghalusan kering dan lembab.
|
Gambar 3.3 end peripheral discharge mills
|
Jenis (rod mill) yang paling banyak digunakan dalam industri pertambangan adalah (trunnion
overflow), dimana umpan dimasukkan melalui sebuah (trunnion )dan dikeluarkan melalui yang lainnya.
Jenis (mill) ini hanya digunakan untuk penghalusan basah fungsi dasarnya
adalah untuk mengkonversi produk (crushing plant) menjadi (ball-mill feed).
Diameter (overflow trunnion) lebih besar 10-20 cm dari bukaan umpan untuk membuat aliran yang
tinggi.
|
Gambar 3.4 overflow mill
|
Untuk (rods) ini digunakan baja karbon tinggi. Jumlah penghalusan yang
optimal diperoleh jika volumenya 35 % dari (shell). Pemakaian (rod) tergantung kepada karakteristik (mill feed),
kecepatan penggilingan, panjang (rod), dan
ukuran produk; normalnya berkisar antara 0,1-1,0 kg baja per ton bijih untuk
penghalusan basah, dan kurang dari itu untuk penghalusan kering.
(Rod mills) normalnya
bekerja antara 50 dan 65% dari kecepatan kritisnya.
|
Gambar 3.5 Grinding action of rocks at Rod Mill
|
3.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari
praktikum (Rod Mill) adalah
menentukan RR80 dari hasil penggerussan, dimana waktu penggerusan
setiap umpan berbeda – beda dan memisahkan mineral pengganggu yang msih menyatu
dengan mineral berharganya.
3.3 Sistematika Alat
Sistematika
alat dari (Rod Mill) yaitu
menggunakan energi kinetik dari slinder baja yang bersama -sama dengan umpan dalam (crusher), pada saat terjadinya pemutaran
kemudian umpan dan silinder baja terlempar bersama – sama ke dinding (crusher) saat itulah terjadinya
penggerusan pada umpan yang kita masukkan pada (Rod Mill).
3.4 Alat dan Bahan
3.4.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam proses pereduksian dengan Rod Mill yaitu :
1.
Rod mill,
sebagai alat untuk menggerus batuan.
2. Stopwatch sebagai
alat pencatat waktu.
3.
Timbangan
Elektrik (neraca analitik) sebagai alat
menimbang berat bahan dan plastik
4.
Sieve shekar sebagai ayakan yang digunakan untuk mengelompokkan butiran sesuai dengan
ukuran butirannya.
5.
Kantong
plastik sebagai wadah sample dari tiap ayakan.
6.
Kemoceng 1 buah sebagai pembersih alat.
7.
Dulang
2 Buah untuk
tempat sample setelah proses
pengerusan.
8. Scrap 2 buah
untuk mencampur sample.
9. Spidol, untuk membuat tanda pada tiap plastik berisi
sampel sebagai pengenal.
10. Pulpen dan kertas (buku), sebagai alat tulis dan tempat
menulis data yang diperoleh.
3.4.2 Bahan
Bahan yang
digunakan sebagai umpan adalah yang
tertahan ayakan no 10 pada proses sebelumnya (Hamer Mill)

Gambar 3.6 Bahan yang digunakan pada percobaab Rod Mill


Neraca
analitik sekop Silinder Baja

dulang Rod Mill
Screen scrap

Spidol
Kemoceng
Gambar
3.7 alat yang digunakan dalam praktikum Rod
Mill
3.5
Prosedur Percobaan
1.
Menimbang
umpan tertahan 10# sebanyak ± 1500 gr, dan membaginya dalam 3 bagian.
2.
Menggerus
umpan I dalam waktu 30 sekon, umpan II 60 sekon dan umpan III 90 sekon dengan
menggukan Rod Mill.
3.
Menimbang
hasil penggerusan Rod Mill tiap bagian .
4.
Mengayak
produk dengan durasi 300 sekon.
5.
Menimbang
produk tiap ukuran mesh pada ayakan.
6.
Setelah
menimbang produk tiap mesh, menyatukan
kembali dalam 1 tempat(plastik).
7.
Mencatat
hasil penimbangan
8.
Malakukan
pengolahan data dan mencari RR80 dengan membandingkan 80% umpan
dengan 80% produk.
3.6 Pengolahan Data
Umpan yang praktikan gunakan yaitu produk yang tertahan
ayakan no 10 dengan berat total 1500 gr, dengan demikian F80 = 1,68 mm (Klasifikasi
Tayler) dan membaginya dalam 3 bagian yang sama.
Umpan 1
Berat awal =
503,2 gr
Berat setelah di Rod Mill = 498,0 gr
Waktu Penggerusan =
30 sekon
Waktu Pengayakan =
300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 1
|
NO
|
MESH
|
LUAS (mm)2
|
BERAT PLASTIK (gr)
|
BERAT PLASTIK + SAMPEL (gr)
|
BERAT SAMPEL (gr)
|
BERAT KOMULATIF (gr)
|
% LOLOS KOMULATIF
|
|
1
|
#10
|
1,68
|
3,2
|
380,4
|
377,2
|
428,8
|
100,00
|
|
2
|
#20
|
0,841
|
3,2
|
42,8
|
39,6
|
51,6
|
12,03
|
|
3
|
#40
|
0,42
|
3,2
|
8
|
4,8
|
12
|
2,80
|
|
4
|
#60
|
0,25
|
3,2
|
6
|
2,8
|
7,2
|
1,68
|
|
5
|
#80
|
0,178
|
3,2
|
5,2
|
2
|
4,4
|
1,03
|
|
6
|
#100
|
0,15
|
3,2
|
3,2
|
0
|
2,4
|
0,56
|
|
7
|
#120
|
0,125
|
3,2
|
3,8
|
0,6
|
2,4
|
0,56
|
|
8
|
#140
|
0,105
|
3,2
|
3,5
|
0,3
|
1,8
|
0,42
|
|
9
|
#200
|
0,073
|
3,2
|
3,5
|
0,3
|
1,5
|
0,35
|
|
10
|
<200
|
0,073
|
3,2
|
4,4
|
1,2
|
1,2
|
0,28
|
|
|
|
|
|
|
428,8
|
|
|
Nilai P80
= 1,49 mm
Maka RR80 =
=
= 1,1275
Umpan 2
Berat awal =
503,4 gr
Berat setelah di Rod Mill = 500,4 gr
Waktu Penggerusan =
60 sekon
Waktu Pengayakan =
300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 2
|
NO
|
MESH
|
LUAS (mm)2
|
BERAT PLASTIK (gr)
|
BERAT PLASTIK + SAMPEL (gr)
|
BERAT SAMPEL (gr)
|
BERAT KOMULATIF (gr)
|
% LOLOS KOMULATIF
|
|
1
|
#10
|
1,68
|
3,2
|
340,2
|
337
|
445,8
|
100,00
|
|
2
|
#20
|
0,841
|
3,2
|
91,4
|
88,2
|
108,8
|
24,41
|
|
3
|
#40
|
0,42
|
3,2
|
13,3
|
10,1
|
20,6
|
4,62
|
|
4
|
#60
|
0,25
|
3,2
|
5,8
|
2,6
|
10,5
|
2,36
|
|
5
|
#80
|
0,178
|
3,2
|
5
|
1,8
|
7,9
|
1,77
|
|
6
|
#100
|
0,15
|
3,2
|
4,4
|
1,2
|
6,1
|
1,37
|
|
7
|
#120
|
0,125
|
3,2
|
4,3
|
1,1
|
4,9
|
1,10
|
|
8
|
#140
|
0,105
|
3,2
|
4,1
|
0,9
|
3,8
|
0,85
|
|
9
|
#200
|
0,073
|
3,2
|
3,6
|
0,4
|
2,9
|
0,65
|
|
10
|
<200
|
0,073
|
3,2
|
5,7
|
2,5
|
2,5
|
0,56
|
|
|
|
|
|
|
445,8
|
|
|
Nilai P80 = 1,46 mm
Maka RR80 =
=
= 1,15
Umpan 3
Berat awal =
503,4 gr
Berat setelah di Rod Mill = 499,7 gr
Waktu Penggerusan =
90 sekon
Waktu Pengayakan =
300 sekon
Tabel 3.1 Produk Pengayakan Umpan Bagian 3
|
NO
|
MESH
|
LUAS (mm)2
|
BERAT PLASTIK (gr)
|
BERAT PLASTIK + SAMPEL (gr)
|
BERAT SAMPEL (gr)
|
BERAT KOMULATIF (gr)
|
% LOLOS KOMULATIF
|
|
1
|
#10
|
1,68
|
3,2
|
388,7
|
385,5
|
445,4
|
100,00
|
|
2
|
#20
|
0,841
|
3,2
|
38
|
34,8
|
59,9
|
13,45
|
|
3
|
#40
|
0,42
|
3,2
|
14
|
10,8
|
25,1
|
5,64
|
|
4
|
#60
|
0,25
|
3,2
|
7,3
|
4,1
|
14,3
|
3,21
|
|
5
|
#80
|
0,178
|
3,2
|
6
|
2,8
|
10,2
|
2,29
|
|
6
|
#100
|
0,15
|
3,2
|
4,8
|
1,6
|
7,4
|
1,66
|
|
7
|
#120
|
0,125
|
3,2
|
4,8
|
1,6
|
5,8
|
1,30
|
|
8
|
#140
|
0,105
|
3,2
|
4
|
0,8
|
4,2
|
0,94
|
|
NO
|
MESH
|
LUAS (mm)2
|
BERAT PLASTIK (gr)
|
BERAT PLASTIK + SAMPEL (gr)
|
BERAT SAMPEL (gr)
|
BERAT KOMULATIF (gr)
|
% LOLOS KOMULATIF
|
|
9
|
#200
|
0,073
|
3,2
|
3,7
|
0,5
|
3,4
|
0,76
|
|
10
|
<200
|
0,073
|
3,2
|
6,1
|
2,9
|
2,9
|
0,65
|
|
|
|
|
|
|
445,4
|
|
|
Nilai P80 = 1,485 mm
Maka RR80 =
=
= 1,13
3.7 Pembahasan
Dari praktikum yang telah
praktikan lakukan praktikan medapat %
lolos komulatif, produk dan RR80
untuk setiap umpan dalam selang waktu proses yang berbeda-beda dengan F80 yang
tetap yaitu 1,680 mm, karena menggunkan pruduk yang lolos ayakan no 10. Untuk
menentukan RR80 dengan rumus berikut
Maka
RR80 =
Dimana : F80 = ukuran umpan pada 80% pada grafik
P80 = ukuran umpan pada 80% pada grafik
-
Umpan bagian 1 dengan Berat awal = 503,2 gr, setelah di reduksi di
Rod Mill = 498,0 gr waktu pengayakan 30 sekon dan berat akhir = 428,8 gr, nilai
P80% = 1,49 mm, sehingga RR80 = 1,1275
-
Umpan bagian 2 dengan Berat awal = 503,4 gr, setelah di reduksi di Rod
Mill = 500,4 gr waktu pengayakan 60 sekon dan berat akhir = 445,8 gr, nilai P80%
= 1,46 mm, sehingga RR80 = 1,15
-
Umpan bagian 3 dengan Berat awal = 503,4 gr, setelah di reduksi di
Rod Mill = 449,7gr waktu pengayakan 90 sekon dan berat akhir = 445,4 gr, nilai P80% = 1,485 mm, sehingga RR80 = 1,13
Pada
proses pengerusan atau pereduksian dengan menggunakan (Rod Mill) berguna untuk memisahkan mineral mineral pengotor yang
masih menyatu dengan mineral berharganya, itulah sebabnya dilakukan proses
lanjutan (secandary crusher). Jumlah
berat umpan yang di masukkan dalam (crusher)
terjadi kehilangan berat (loss) hal
tersebut karena beberapa hal yaitu, sebagian umpan tertinggal dalam alat
sehingga dianggap berat yang hilang, selanjutnya pada saat penuangan produk ke
suatu tempat (plastik) dan selanjutnya pada saat pengeluaran produk dari (crusher) umpan yang berukuran (micro) terhembus dan terbawa oleh angin.
Hal-hal tersebutlah yang mengakibatkan perbedaan antara berat umpan denga berat
produk (berat produk lebi rendah daripada berat umpan)
3.8 Aplikasi
Aplikasi
(Rod Mill) pada perusahaan
pertambangan yaitu berguna untuk meningkatkan jumlah produksi dan meningkatkan
kualitas produksi suatu perusahaan, dimana proses (Rod Mill) yaitu menggerus umpan yang umpannya berasal dari hasil
perduksian sebelumnya (primary Crusher)
dengan memisahkan mineral – mineral pengganggu yang masih menyatu dengan
mineral berharganya supaya mendapatkan produk baik. Pada umumnya Rod Mill
digunakan dalam perusahaan logam dan nonlogam, seperti pasir, besi, dolomit,
keramik dll.
3.9
Kesimpulan dan Saran
3.9.1
Kesimpulan
Dari praktikum yang
telah praktikan lakukan, praktikan dapat menyimpulkan bahwa :
1.
Rod
Mill merupakan lanjutan dari Primary crusher
yaitu secondary crusher (tahap
pereduksian lanjutan dari primari)
2.
Rod
Mill merupakan salah satu bagian pereduksian
batuan yaitu menggerus dengan
menggunakan silinder baja, yang bertujuan untuk memisahkan mineral pengotor
yang masih menyatu dengan mineral berharganya.
3.
Pada pereduksian dengan Rod Mill nilai RR80 relatif
kecil, hal tersebut dipengaruhi oleh F80 (nilai 80 % pada umpan),
karena pada pereduksian ini praktikan mengunakan umpan yang tertahan ayakan no
10.
4.
Pada pereduksian
menggunakan Rod Mill semakin lama waktu pengayakan maka semakin banyak produk
yang berukuran milli (lolos ayakan < 200)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar